Flock Safety Janji Tidak Lacak Orang, Kode Sumber Mereka Ungkap Sebaliknya
Perusahaan pengawas publik ini mengklaim tidak memantau individu. Namun, sistem AI baru mereka justru melacak warga tanpa pelat nomor atau nama.


Model ini tidak salah. Ia hanya tidak sedang berpikir.”
Di Balik Layar: 69 Prompt AI yang Membuka Kotak Pandora
Flock Safety menguasai lebih dari 6.000 komunitas di Amerika Serikat melalui jaringan kamera pemindai kendaraan. Selama bertahun-tahun, narasi pemasaran mereka konsisten: alat ini hanya mencatat pelat nomor untuk membantu polisi melawan kejahatan properti. Tapi investigasi teknis mendalam membongkar realitas yang jauh lebih invasif.
Perangkat lunak yang dulunya disebut Nightshift dan kini berganti nama menjadi OS Investigate membawa 69 prompt AI siap pakai. Sebanyak 41 prompt dapat diakses petugas penegak hukum tanpa memerlukan izin khusus apa pun. Angka itu bukan sekadar fitur tambahan; itu adalah mesin pengawas otonom.
Sistem ini bekerja dengan menyedot data dari berbagai pangkalan data komersial dan catatan penangkapan polisi. Cukup masukkan nama dan tanggal lahir, dan sistem langsung menghasilkan profil lengkap berisi nomor telepon hingga daftar kerabat dekat. Batas antara pengawasan kendaraan dan penguntitan personal telah dihapus secara sistematis.
Follow the Money: Valuasi Jaringan dan Bantahan PR yang Runtuh
Mari kita bedah kontradiksi antara siaran pers perusahaan dan kemampuan nyata perangkat lunak tersebut. Juru bicara Flock, Paris Lewbel, berargumen bahwa OS Investigate adalah produk terpisah dari pembaca pelat nomor standar. Mereka mengklaim fitur ini hanya membantu penyidik merangkum catatan yang sudah dimiliki kepolisian.
Tapi argumen PR itu runtuh ketika melihat kode sumbernya secara langsung. Ada 14 prompt dalam sistem tersebut yang tidak membutuhkan pelat nomor, nama, maupun deskripsi fisik sama sekali. Petugas hanya perlu memasukkan lokasi, rentang waktu, dan pola perilaku tertentu.
Cukup tentukan mobil yang mengunjungi tiga pusat perbelanjaan dalam tiga hari, atau beberapa bank dalam seminggu, dan sistem akan langsung menampilkan daftar nama pengemudinya. Filter otomatis bahkan menyingkirkan bus serta mobil pengantar barang agar warga biasa yang kebetulan melintas tetap teridentifikasi. Noel Pichardo, mantan petugas kepolisian Pawtucket, merangkumnya tanpa basa-basi: "Saya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya selain ini terdengar sangat gila."
Algoritma Rekan Perjalanan: Saat Gerak-Gerik Menjadi Identitas
Logika pemrograman di balik OS Investigate mengungkap cara kerja yang mengabaikan privasi dasar. Sistem ini menghitung seberapa sering kendaraan lain muncul di kamera yang sama dalam jendela waktu dua menit dari mobil target. Jika sebuah mobil muncul tiga kali atau lebih dengan tingkat keyakinan di atas 0,75, sistem langsung menyerahkan hingga 20 nama asosiasi.
Ini membalikkan janji utama perusahaan bahwa teknologi mereka tidak melacak orang. Jay Stanley, analis kebijakan senior di ACLU, memberikan peringatan keras bahwa jurang pemisah antara kemampuan kamera Flock dan apa yang dilakukan negara otoriter kini semakin tipis. Pengawasan gaya negara tirai bambu telah merangsek masuk ke jalanan pinggiran kota barat.
Kritik ini bukan lagi perdebatan teoretis di ruang sidang. Kemarahan publik telah meluas ke jalan raya di mana aktivis merusak dan menyemprot cat ke puluhan kamera Flock di berbagai negara bagian. Laporan dari Institute Justice bahkan mencatat puluhan kasus aparat kepolisian yang diskors karena menyalahgunakan pembaca pelat nomor untuk menguntit mantan pasangan mereka.
Taruhan Regulator dan Masa Depan Pengawasan Jalanan
Tekanan kini merambat hingga ke Gedung Putih dan Kongres Amerika Serikat. Anggota Parlemen Thomas Massie merancang undang-undang khusus untuk memotong pendanaan federal bagi lembaga penegak hukum yang mengandalkan teknologi pengawasan invasif ini. Ancaman finansial mulai menghantui model bisnis korporasi pengawas yang tumbuh terlalu cepat tanpa regulasi memadai.
Di sisi lain, perlombaan senjata pengawasan terus berlanjut tanpa rem. Peneliti independen mulai merancang pola cetak AI yang mampu mengecoh algoritma pembaca pelat nomor untuk melindungi privasi warga. Flock sendiri tidak berjalan sendiri; raksasa teknologi seperti Meta juga memegang paten kamera yang mampu mengenali wajah sekaligus mencatat seluruh aktivitas fisik seseorang di ruang publik.
Jarak antara klaim korporasi yang menenangkan dan kapasitas pengawasan mutakhir semakin melebar setiap hari. Ketika sebuah kamera di perempatan jalan tidak lagi hanya membaca angka pelat, melainkan memetakan siapa teman Anda, ke mana Anda berbelanja, dan dengan siapa Anda bergaul — apa lagi yang tersisa dari privasi publik di ruang terbuka?

OpenAI Luncurkan GPT-6 Astra, Indikasikan Tonggak Pencapaian AGI
04 MNT BACA
Di Balik Truk Murah $25.000 Slate: Siapa yang Sebenarnya Membayar Modifikasinya?
11 MNT BACA
Gubernur Texas Bekukan Anggaran Kamera Flock: Saat $30 Juta Berakhir di Bayang-Bayang Privasi
14 MNT BACAFlock Safety Janji Tidak Lacak Orang, Kode Sumber Mereka Ungkap Sebaliknya
Perusahaan pengawas publik ini mengklaim tidak memantau individu. Namun, sistem AI baru mereka justru melacak warga tanpa pelat nomor atau nama.

Model ini tidak salah. Ia hanya tidak sedang berpikir.”
Di Balik Layar: 69 Prompt AI yang Membuka Kotak Pandora
Flock Safety menguasai lebih dari 6.000 komunitas di Amerika Serikat melalui jaringan kamera pemindai kendaraan. Selama bertahun-tahun, narasi pemasaran mereka konsisten: alat ini hanya mencatat pelat nomor untuk membantu polisi melawan kejahatan properti. Tapi investigasi teknis mendalam membongkar realitas yang jauh lebih invasif.
Perangkat lunak yang dulunya disebut Nightshift dan kini berganti nama menjadi OS Investigate membawa 69 prompt AI siap pakai. Sebanyak 41 prompt dapat diakses petugas penegak hukum tanpa memerlukan izin khusus apa pun. Angka itu bukan sekadar fitur tambahan; itu adalah mesin pengawas otonom.
Sistem ini bekerja dengan menyedot data dari berbagai pangkalan data komersial dan catatan penangkapan polisi. Cukup masukkan nama dan tanggal lahir, dan sistem langsung menghasilkan profil lengkap berisi nomor telepon hingga daftar kerabat dekat. Batas antara pengawasan kendaraan dan penguntitan personal telah dihapus secara sistematis.
Follow the Money: Valuasi Jaringan dan Bantahan PR yang Runtuh
Mari kita bedah kontradiksi antara siaran pers perusahaan dan kemampuan nyata perangkat lunak tersebut. Juru bicara Flock, Paris Lewbel, berargumen bahwa OS Investigate adalah produk terpisah dari pembaca pelat nomor standar. Mereka mengklaim fitur ini hanya membantu penyidik merangkum catatan yang sudah dimiliki kepolisian.
Tapi argumen PR itu runtuh ketika melihat kode sumbernya secara langsung. Ada 14 prompt dalam sistem tersebut yang tidak membutuhkan pelat nomor, nama, maupun deskripsi fisik sama sekali. Petugas hanya perlu memasukkan lokasi, rentang waktu, dan pola perilaku tertentu.
Cukup tentukan mobil yang mengunjungi tiga pusat perbelanjaan dalam tiga hari, atau beberapa bank dalam seminggu, dan sistem akan langsung menampilkan daftar nama pengemudinya. Filter otomatis bahkan menyingkirkan bus serta mobil pengantar barang agar warga biasa yang kebetulan melintas tetap teridentifikasi. Noel Pichardo, mantan petugas kepolisian Pawtucket, merangkumnya tanpa basa-basi: "Saya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya selain ini terdengar sangat gila."
Algoritma Rekan Perjalanan: Saat Gerak-Gerik Menjadi Identitas
Logika pemrograman di balik OS Investigate mengungkap cara kerja yang mengabaikan privasi dasar. Sistem ini menghitung seberapa sering kendaraan lain muncul di kamera yang sama dalam jendela waktu dua menit dari mobil target. Jika sebuah mobil muncul tiga kali atau lebih dengan tingkat keyakinan di atas 0,75, sistem langsung menyerahkan hingga 20 nama asosiasi.
Ini membalikkan janji utama perusahaan bahwa teknologi mereka tidak melacak orang. Jay Stanley, analis kebijakan senior di ACLU, memberikan peringatan keras bahwa jurang pemisah antara kemampuan kamera Flock dan apa yang dilakukan negara otoriter kini semakin tipis. Pengawasan gaya negara tirai bambu telah merangsek masuk ke jalanan pinggiran kota barat.
Kritik ini bukan lagi perdebatan teoretis di ruang sidang. Kemarahan publik telah meluas ke jalan raya di mana aktivis merusak dan menyemprot cat ke puluhan kamera Flock di berbagai negara bagian. Laporan dari Institute Justice bahkan mencatat puluhan kasus aparat kepolisian yang diskors karena menyalahgunakan pembaca pelat nomor untuk menguntit mantan pasangan mereka.
Taruhan Regulator dan Masa Depan Pengawasan Jalanan
Tekanan kini merambat hingga ke Gedung Putih dan Kongres Amerika Serikat. Anggota Parlemen Thomas Massie merancang undang-undang khusus untuk memotong pendanaan federal bagi lembaga penegak hukum yang mengandalkan teknologi pengawasan invasif ini. Ancaman finansial mulai menghantui model bisnis korporasi pengawas yang tumbuh terlalu cepat tanpa regulasi memadai.
Di sisi lain, perlombaan senjata pengawasan terus berlanjut tanpa rem. Peneliti independen mulai merancang pola cetak AI yang mampu mengecoh algoritma pembaca pelat nomor untuk melindungi privasi warga. Flock sendiri tidak berjalan sendiri; raksasa teknologi seperti Meta juga memegang paten kamera yang mampu mengenali wajah sekaligus mencatat seluruh aktivitas fisik seseorang di ruang publik.
Jarak antara klaim korporasi yang menenangkan dan kapasitas pengawasan mutakhir semakin melebar setiap hari. Ketika sebuah kamera di perempatan jalan tidak lagi hanya membaca angka pelat, melainkan memetakan siapa teman Anda, ke mana Anda berbelanja, dan dengan siapa Anda bergaul — apa lagi yang tersisa dari privasi publik di ruang terbuka?
